Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Februari 2011

Wang Zipping, Legenda Grandmaster Wushu Muslim Cina


REPUBLIKA.CO.ID, Seratusdelapanpuluh kilometer dari utara Kota Terlarang (Beijing saat ini), terletak Changzhou, tempat tinggal suku Hui. Hui adalah suku Muslim di Cina. Namun, selain Islam, ada hal yang menjadi kecintaan anggota suku, yakni tradisi seni bela diri.

Sebelum penemuan senjata, Wushu merupakan alat utama pertempuran dan pertahanan diri di Cina. Para pemimpon Hui selalu mendorong anggotanya mempelajari Wushu sebagai 'kebiasaan suci' demi memperkuat disiplin dan keberanian untuk memperjuangkan sekaligus bertahan di tanah mereka.

Saat itu masjid-masjid, bagi suku Hui, bukan hanya tempat untuk beribadah, tapi juga medan latihan bagi Grandmaster untuk melatih dasar-dasar Wushu kepada murid-murid antusias.

Seperti banyak Hui yang lain, Wang Ziping lahir di tengah keluarga miskin. Ayahnya bekerja sebagai petinju bayaran. Saat masih bocah, Ziping menunjukkan keinginan kuat belajar Wushu. Bela diri ini adalah identitas Hui. Tidak ada Hui--yang saat itu hanya senilai upah garam--akan berani menjalani hidup tanpa "Latihan Delapanbelas Pukulan Pertempuran" dan "Tinju Diagram Delapan" melekat pada tubuh dan pikiran.

Selain Wushu, Hui juga mendalami ajaran Islam. Dengan demikian kehidupan Hui adalah campuran antara buruh miskin, latihan keras dan spiritual mendalam. Kemampuan luar biasa mereka dalam Wushu bukan sesuatu yang datang sekejap mata.

Begitu pula yang dialami Ziping. Di tengah pelajaran mengaji Al Qur'an, Ziping juga harus mengangkat batu berat untuk membangun stamina, kekuatan dan galian parit yang kian lama kiat luas begitu kemampuannya melompat meningkat. Keseimbangan yang baik diasah dengan cara berbahaya.

Zipping ditanam dalam tanah. Saat itu pula Zipping membaca lantunan zikir. Kekuatan dan keseimbangannya pun bertambah berlipat ganda. Konsentrasi yang biasa dilakukan saat shalat sebagai tuntutan dalam Islam menjadi tulang punggung sesolid batu bagi gerakan mengalir dalam Wushu.

Iklim di Changzou cukup sejuk ketika musim panas, namun dingin saat musim salju. Dalam bulan-bulan musim dingin salju jarang turun sehingga memungkina latihan tetap digelar. Zipping berlatih dengan seluruh elemen untuk membuat tangguh tubuhnya. Begitu ia menginjak usia 14 tahun, ia sudah bisa melompat lebih dari 3 meter dari posisi berdiri.

Sayang bocah dengan tubuh setegap pria dewasa dan kualitas petarung itu tak memiliki guru. Ayahnya yang keras kepala menolak memasukkan Zipping ke sekolah Wushu. Setengah putus asa mencari guru dan teman, ia jatuh ke dalam komunitas rahasia yang menyebut diri mereka "Jurus Kebenaran dan Keharmonian".

Akhirnya Wang Zipping memutuskan pergi dan mengembara ke selatan Jinan, di mana ia menjadi musafir yang tinggal di sebuah Masjid Besar. Dalam ruang utama masjid itulah, Zipping bertemu pria seperti dirinya, seorang petinju. Ia bernama Yang Hongxiu, Grandmaster Wushu yang akhirnya menjadi gurunya.

Dan Zipping pun dengan serius mulai mempelajari gerakan burung dan mamalia, seperti elang menukik menyambar mangsa, gerakan kelinci melintasi padang rumput, hingga lompatan jitu anjing menghindar dari bahaya. Ia menyerap semua karakter gerakan itu dan menciptakan gayanya sendiri. Stamina dan refleksnya yang kian berkembang, membuat Zipping tak hanya kuat tetapi juga cepat--sebuah kombinasi mematikan dalam Wushu.

Seorang dianggap Grandmaster ketika ia mampu menggunakan alat apa pun sebagai senjata. Pengembangan kemampuan ini adalah seni sekaligus kebutuhan dalam Wushu. Zipping, menjadi luar biasa fasih dengan semua senjata utama.

Dia sangat mahir terutama dalam melakukan Qinna, yakni teknik sergapan yang dapat mengunci sendi dan otot-otot lawan dalam persiapan melakukan serangan dahsyat; Shuaijiao. Nama yang terakhir itu adalah gaya bertarung tangan kosong yang menggabungkan prinsip Tai Chi, Hard Qigong dan Teknik Meringankan Tubuh.

Ia mendapat pengakuan sebagai seniman bela diri yang utuh. Pada saat bersamaan ia juga pakar dalam trauma tulang. Ia mengombinasikan pengetahuan mendalam dalam Qinna dengan ketrampilang mengatur tulang. Akhirnya ia menemukan sistem penyembuhan untuk cedera Wushu dan olahraga di utara Cina.

Legenda Klasik

Banyak kisah, ada yang asli dan juga sekedar mitos, yang telah disematkan pada sosoknya. Namun yang selalu diulang adalah kisah satu ini.

Selama melakukan praktek pengobatan di Jiaozhou, Jerman ditugaskan untuk membangun rel kereta api dari kawasan itu menuju Jinan. Proyek mercusuar itu adalah harga mahal yang harus dibayar setelah Ratu Ci'xi gagal dalam pemberontakan tinju. Reldibuat dengan yang tujuan memperluas dan mengkokohkan kontrol Eropa atas daratan Cina.

Reputasi Zipping bukannya tak diketahui oleh Jerman. Lebih cerdas dan berani dari pada koleganya, para Jerman berupaya mempermainkannya. Seorang petinggi militer Jerman bersiasat dengan menempatkan penggilingan batu besar di depan stasiun rel kereta api dan menantang siapa pun untuk mengangkatnya.

Zipping yang tidak pernah bisa tahan dengan penghinaan terhadap orang Cina, secara alami langsung gusar. Seperti yang diharapkan Jerman, Zipping masuk perangkap.

"Bagaimana kalau saya bisa mengangkatnya," tanya Zipping.

"Maka gilingan itu menjadi milikmu," para Jerman menjawab dengan tampang mengolok-olok.

"Bila saya gagal?"

"Maka kamu harus membayar,"

Zipping denga mudah mengangkan gilingan batu itu, meninggalkan para Jerman tercengang-cengang. Seorang warga Amerika yang bekerja sebagai guru fisika di tempat itu, menyaksikan aksi Zipping. Ia pun menantang duel Zipping.

Saat berjabat tangan mengawali pertandingan, tiba-tiba si Amerika dengan kuat memegang tangan Zipping dan berupaya membantingnya ke tanah. Zipping secepat kilat menyapukan kaki ke bagian bawah tubuh lawannya dan membuatnya ambruk.

Karena reputasinya, Zipping ditunjuk sebagai kepala Divisi Shaolin di Institut Pusat Seni Bela Diri. Ia juga pernah menjabat wakil presiden Asosiasi Whusu Cina, organisasi Wushu tertinggi di CIna.

Ia memegang banyak gelar dan tanggung jawab, termasuk konsultan sejumlah rumah sakit besar di penjuru Cina. Karirnya sebagai pakar bela diri juga kian menajam setelah ia melakoni banyak duel dengan orang asing. Ia selalu ingin membuktikan bahwa Cina bukan ras inferior.

Meski dalam usia senja, Zipping tak pernah kehilangan kekuatan dan kecepatannya. Pada 1960 ketika ia menjadi pelatih dan direktur grup pelajar Wushu yang menyertai perdana menteri saat itu, Zhou Enlai, melawat ke Burma, ia diminta mendemonstrasikan kemampuannya. Di depan tuan rumah ia menampilkan jurus dengan senjata luar biasa berat, Pedang Naga Hitam, dengan teknik tinggi, kemampuan dan semangat muda, tak satupun orang berpikir ia telah berkepala delapan.

Minggu, 20 Februari 2011

Hidayat Nur Wahid Tokoh Bersih Bersahaja


Pelopor Hidup Bersih dan Jujur

Kehausan masyarakat akan hadirnya tokoh yang bersih dan bersahaja itu akhirnya terpenuhi. Tampilnya Hidayat Nur Wahid sebagai ketua MPR pada 13 Oktober 2004 lalu, bak oase yang menghapus rasa dahaga masyarakat. Betapa tidak, hanya lima hari setelah menjabat ketua MPR, mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu langsung menggagas kesepakatan yang layak menjadi teladan bagi pejabat tinggi lainnya. Bersama pimpinan MPR lainnya, Hidayat menolak mobil dinas Volvo yang dianggap sebagai lambang kemewahan.

Tak hanya itu. Pimpinan MPR juga menolak tinggal di kamar mewah Hotel Mulia Jakarta --dengan tarif sekitar Rp 5 juta per malam-- selama sidang MPR 18-20 Oktober 2004. Mereka akhirnya ditempatkan di kamar standar dengan tarif Rp 1,5 juta per malam. Hidayat bahkan sempat menginap di kantornya ketika jadwal sidang amat padat.

Dibanding pejabat tinggi lain, kekayaan Hidayat jauh di bawahnya. Saat awal menjabat ketua MPR, total harta kekayaan Hidayat sekitar Rp 233,269 juta dan 15.000 dolar AS. Jumlah yang boleh dibilang 'sangat sedikit' dibanding pejabat tinggi lainnya. a juga meninggalkan posisinya sebagai presiden partai, begitu terpilih sebagai ketua MPR. Suatu contoh baru dalam alam politik di tanah air. "Saya kira, perangkapan jabatan itu juga merupakan penyalahgunaan jabatan," kilahnya.

Cerita seputar kesahajaan dan keteladanan pria kelahiran Klaten, Jateng, 8 April 1960 itu masih berlanjut. Ayah empat anak dari pernikahannya dengan Kastrian Indriawati tersebut sempat menolak uang dinas untuk tiga hari kerja ke Makassar karena faktanya dia hanya sehari berada di sana. Jika ada undangan dari partainya untuk berkunjung ke daerah, Hidayat selalu menolak beragam fasilitas --termasuk kamar hotel mewah-- dari pemda setempat.

Suatu saat, Hidayat pernah marah terhadap kader PKS di Padang. Kala itu, Hidayat hadir di sana atas undangan partainya. Dia merasa aneh ketika ditempatkan di kamar mewah Hotel Bumi Minang. Setelah dijelaskan, bahwa biaya hotel ditanggung pemda setempat, Hidayat tak mau. Dia bersikeras membayar sewa kamar sendiri dan tak hendak membebani pemda.

Kunjungan ke daerah atas nama partai pun selalu menggunakan kursi pesawat kelas ekonomi, sesuai kemampuan pihak yang mengundang. Dia tak akan bergeser dari tempat duduk, sekalipun pramugari menyilakannya berpindah ke kelas bisnis atau eksekutif.

Lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo itu memang selalu memberi contoh konkret. Saat badai tsunami menerjang Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004, dia ikut turun langsung ke lokasi musibah. Bukan sekadar meninjau, Hidayat ikut membantu untuk mengangkat mayat-mayat yang berserakan. Bersama kader partainya, ia pun melakukan shalat jenazah di lokasi terjadinya musibah.

Hidayat yang lulus S1, S2, dan S3 dari Universitas Islam Madinah, Arab Saudi itu lahir dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya adalah seorang guru. Karena itu, jiwa pendidik yang senantiasa memberi contoh akan selalu dipegangnya. "Anda tak mungkin menuntut komitmen orang lain kalau Anda sendiri tak memiliki komitmen," tutur anak dari Muhammad Syukri dan Siti Rahayu tersebut.

Dia pun berpendapat, asal ada komitmen kuat dari para pengambil keputusan, maka tak terlalu sulit untuk melawan korupsi. Menurut dia, korupsi hampir selalu terkait dengan kekuasaan. "Sedangkan kekuasaan itu ada di tangan pengambil keputusan. Ini ibarat mata air. Kalau mata airnya jernih, maka aliran air yang ke bawah juga akan ikut jernih," paparnya.

Sikap empatik, tak bermewah-mewah, dan hidup secukupnya (efisien) menjadi prinsip moral yang dipegangnya. "Saya sejak dulu punya prinsip qana'ah (merasa cukup dengan apa yang ada)," jelasnya. Prinsip ini dianggapnya sebagai cara ampuh menghindari godaan korupsi.

Dua hal yang ditakuti penggemar bulu tangkis itu adalah jika tak mampu menjaga istikamah (konsistensi) maupun memegang amanah (kepercayaan). Baginya, orang yang tak konsisten tidak akan mungkin mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik. Di mata pengamat hukum perbankan Pradjoto, Hidayat dianggap tokoh yang luar biasa. "Semoga komitmennya bisa menular pada tokoh lainnya," kata Pradjoto ketika itu.

Sedangkan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, Anwar Nasution, merasa amat terkesan terhadap sikap Hidayat. "Gerakan moralnya untuk memberantas korupsi dengan pola hidup sederhana perlu dijadikan contoh," paparnya beberapa waktu lalu.

Di saat kondisi bangsa masih carut-marut seperti ini, 'virus' yang dibawa oleh Hidayat amatlah diperlukan. Apalagi, 'virus hidup bersih' itu dihembuskan oleh seorang petinggi negara. Tentu saja gaungnya diharapkan bisa menggema ke seluruh penjuru negeri agar makin banyak melahirkan Hidayat-Hidayat yang lain.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification